Tembang Macapat: Pengertian, Sejarah, Jenis, dan Unsur-Unsurnya

Tembang macapat salah materi wajib Bahasa Jawa yang diajarkan pada tiap jenjang kelas
Deskripsi gambar
Tembang Macapat dalam Bahasa Jawa

Memabahas salah satu materi yang menjadi salah satu materi wajib yang paling sering dibahas dalam pelajaran Bahasa Jawa.

Tembang Macapat Salah Satu Budaya: Pengantar Singkat

Pernah nggak sih kamu mendengar istilah Tembang Macapat? Atau mungkin pernah belajar waktu sekolah tapi sekarang mulai agak lupa? Tenang, kita ngobrol santai saja di sini 😊

Tembang (yang artinya lagu) Macapat adalah salah satu jenis tembang dalam budaya Jawa. Dalam kebudayaan Jawa sendiri, tembang dibagi menjadi tiga jenis utama, yaitu Tembang Ageng, Tembang Tengahan, dan Tembang Macapat. Nah, Macapat inilah yang paling sering dipelajari di sekolah karena lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tembang Macapat memiliki 11 macam jenis tembang yang masing-masing punya aturan dan makna tersendiri. Tembang ini juga sering disebut sebagai Sekar Alit. Menariknya lagi, seluruh rangkaian tembang Macapat menggambarkan siklus hidup manusia, mulai dari dalam kandungan sampai meninggal dunia.

Mengapa Dinamakan Macapat?

Pertanyaan yang sering muncul: kenapa namanya Macapat?

Ada yang mengatakan kata Macapat berasal dari kata Maca (baca) dan Cepet (cepat), sehingga awalnya disebut Macapet. Karena dalam pelafalannya harus tetap memperhatikan keindahan suara dan vokal, akhirnya berubah menjadi Macapat.

Jadi, bisa dipahami bahwa Macapat adalah lagu atau tembang yang dibaca dengan irama tertentu dan memiliki aturan khusus dalam pelafalannya.

Kapan Macapat Mulai Ada? Siapa Penciptanya?

Kalau kita bicara sejarah, Tembang Macapat sudah ada sejak zaman Majapahit. Menurut beberapa sumber, tembang ini berkembang bersamaan dengan tembang Tengahan.

Ada pendapat yang menyebutkan bahwa Tembang Macapat diciptakan oleh Prabu Dewawasesa atau Prabu Banjaransari sekitar tahun 1191 Tahun Jawa atau 1269 Masehi.

Walaupun ada beberapa versi sejarah, yang jelas Tembang Macapat sudah menjadi bagian penting dari kebudayaan Jawa sejak ratusan tahun lalu.

Nama-Nama dan Arti Tembang Macapat

Sekarang kita masuk ke bagian yang paling menarik. Apa saja sih 11 jenis tembang Macapat itu? Dan kenapa urutannya seperti itu?

Seperti yang sudah disinggung tadi, keseluruhan tembang ini menggambarkan perjalanan hidup manusia. Dari lahir, tumbuh dewasa, hingga meninggal dunia.

  1. Mijil – Menggambarkan bayi yang baru lahir ke dunia.
  2. Kinanthi – Bayi mulai belajar berjalan dan dibimbing.
  3. Sinom – Masa remaja, penuh semangat dan pencarian jati diri.
  4. Asmarandana – Mulai mengenal cinta dan perasaan.
  5. Dandanggula – Masa indah dan manisnya kehidupan.
  6. Gambuh – Menikah dan membangun rumah tangga.
  7. Maskumambang – Mulai memasuki usia tua, masih labil antara dunia dan akhirat.
  8. Durma – Sudah mantap dalam prinsip dan spiritualitas.
  9. Pangkur – Menjauh dari urusan dunia.
  10. Megatruh – Terpisahnya ruh dan jasad (meninggal).
  11. Pucung – Jasad telah dibungkus kain kafan.

Kalau dipikir-pikir, indah sekali ya konsepnya. Seolah-olah Macapat bukan sekadar lagu, tapi refleksi kehidupan manusia secara utuh.

Unsur-Unsur dalam Tembang Macapat

Nah, sekarang kita masuk ke bagian teknisnya. Dalam Tembang Macapat ada tiga unsur utama yang wajib dipahami.

  • Guru Gatra – Jumlah baris dalam satu bait tembang.
  • Guru Wilangan – Jumlah suku kata dalam setiap baris.
  • Guru Lagu – Huruf vokal di akhir setiap baris.

Catatan: Ketiga unsur ini yang membuat Macapat berbeda dari puisi biasa. Semuanya sudah memiliki aturan yang tetap.

Pola Guru Wilangan dan Guru Lagu

No Nama Tembang Pola
1Mijil10-i, 6-o, 10-e, 10-i, 6-i, 6-u
2Kinanthi8-u, 8-i, 8-a, 8-i, 8-a, 8-i
3Sinom8-a, 8-i, 8-a, 8-i, 7-i, 8-u, 7-a, 8-i, 12-a
4Asmarandana8-i, 8-a, 8-e/o, 8-a, 7-a, 8-u, 8-a
5Dandanggula10-i, 10-a, 8-e, 7-u, 9-i, 7-a, 6-u, 8-a, 12-i, 7-a
6Gambuh7-u, 10-u, 12-i, 8-u, 8-o
7Maskumambang12-i, 6-a, 8-i, 8-a
8Durma12-a, 7-i, 6-a, 7-a, 8-i, 5-a, 7-i
9Pangkur8-a, 11-i, 8-u, 7-a, 12-u, 8-a, 8-i
10Megatruh12-u, 8-i, 8-u, 8-i, 8-o
11Pucung12-u, 6-a, 8-i, 12-a

Contoh: Pada tembang Mijil terdapat enam baris (guru gatra enam). Baris pertama memiliki 10 suku kata dan diakhiri huruf vokal “i”. Begitu seterusnya mengikuti pola yang sudah ditentukan.

Kesimpulan

Jadi, Tembang Macapat adalah salah satu bentuk karya sastra Jawa yang memiliki aturan khusus, terdiri dari 11 jenis tembang, dan menggambarkan perjalanan hidup manusia dari lahir hingga meninggal.

Selain sebagai warisan budaya, Macapat juga sering muncul dalam pelajaran bahasa Jawa, bahkan masih digunakan dalam berbagai acara adat hingga sekarang.

Menarik ya? Ternyata di balik tembang yang terdengar sederhana, tersimpan filosofi kehidupan yang dalam sekali.

Daftar Pustaka

Prawiradisastra, Sadjijo. 1997. Pengantar Seni Tembang, Diktat. Yogyakarta: FBS UNY.

Seorang Guru SD yang bertugas di wilayah Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah.