Murid Sekarang Lebih Mudah Menalar daripada Mengingat? Sebuah Refleksi Pembelajaran
Pada suatu pagi, saya mendengar percakapan antara guru kelas 5 dan guru kelas 6. Guru kelas 5 menceritakan bahwa beberapa siswanya dapat memahami prosedur perkalian dan pembagian, tetapi masih mengalami kesulitan ketika berhadapan dengan soal matematika sederhana yang membutuhkan hafalan.
Guru kelas 6 menanggapi bahwa kelemahan tersebut sudah ditemukan dan perlu dipikirkan solusinya. Namun, guru kelas 5 juga menghadapi kendala. Menguji hafalan setiap siswa membutuhkan waktu, sementara jumlah siswa cukup banyak dan kegiatan pembelajaran harus tetap berjalan.
Percakapan itu membuat saya teringat pada pengalaman sendiri ketika mengajar. Saya pernah menemukan siswa yang dapat mengikuti langkah-langkah penyelesaian soal, tetapi masih kesulitan mengingat hasil perkalian atau pembagian sederhana.
Pengalaman tersebut membuat saya bertanya-tanya: apakah persoalan yang dialami siswa hanya berkaitan dengan hafalan, atau ada hal lain dalam proses pembelajaran yang perlu saya perhatikan?
Mari kita melaksanakan kilas balik sebentar. Pada blog ini saya pernah membahas tentang Cara Mengajarkan Perkalian Susun. artikel ini bukan merupakan lanjutan dari artikel tersebut. Namun, bagi pembaca yang ingin membaca lebih lanjut dapat melihat pada tautan tersebut
1. Percakapan yang Memunculkan Pertanyaan
Percakapan antara guru kelas 5 dan guru kelas 6 mendorong saya untuk memikirkan lebih jauh persoalan yang mereka hadapi. Saya tertarik karena kesulitan yang diceritakan ternyata juga pernah saya temui dalam pembelajaran di kelas.
Saya kemudian mencoba memeriksa kembali kemampuan siswa kelas 4 yang saya ajar. Saya ingin melihat apakah persoalan serupa juga terjadi di kelas saya. Hasil pengamatan tersebut justru memunculkan pertanyaan yang lebih luas.
Apakah saat ini siswa lebih mudah menalar daripada mengingat?
Pertanyaan itu menjadi titik awal refleksi saya. Namun, untuk memahaminya, saya perlu melihat terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi ketika siswa mengerjakan soal di kelas.
2. Pengalaman Saya di Kelas
Pengamatan ini saya lakukan di kelas 4 yang terdiri atas 35 siswa. Kemampuan siswa cukup beragam, dan tidak ada siswa berkebutuhan khusus di kelas tersebut.
Saat itu, saya sedang membahas materi mengubah pecahan biasa menjadi bentuk persen sekaligus mengulang materi operasi hitung campuran. Dalam kegiatan tersebut, saya mencoba memeriksa kembali pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajari sebelumnya.
Pemeriksaan ini saya lakukan secara mendadak, tanpa memberikan persiapan khusus berupa pengulangan materi sebelum tes. Dengan demikian, saya dapat melihat gambaran kemampuan siswa ketika mereka diminta mengerjakan soal tanpa terlebih dahulu mengulang materi yang berkaitan.
Dari pengamatan tersebut, saya melihat bahwa sebagian siswa sudah dapat mengikuti langkah-langkah pengerjaan operasi hitung campuran. Namun, ketika menghadapi soal mengubah pecahan menjadi persen, beberapa siswa masih menganggapnya sebagai materi yang sulit.
Hal lain yang menarik perhatian saya adalah kesulitan siswa ketika mengerjakan soal perkalian dan pembagian sederhana. Beberapa siswa masih kesulitan menjawab soal perkalian dasar, terutama perkalian 1 sampai 10. Padahal, penguasaan hasil perkalian tersebut dapat membantu mereka menyelesaikan berbagai soal matematika dengan lebih mudah.
Di sinilah saya mulai merasakan bahwa pengalaman guru kelas 5 yang saya dengar pada pagi itu memiliki kemiripan dengan kondisi di kelas saya sendiri. Siswa dapat mengikuti langkah-langkah penyelesaian soal, tetapi masih mengalami kesulitan ketika harus mengingat hasil hitungan dasar.
Pengalaman tersebut membuat saya melihat adanya perbedaan antara kemampuan mengikuti proses penyelesaian soal dan kemampuan mengingat hasil hitungan secara langsung. Keduanya berkaitan, tetapi tidak selalu menunjukkan kemampuan yang sama.
Dari sini, saya mulai bertanya-tanya apakah kesulitan mengingat hasil hitungan juga dapat memengaruhi kemampuan siswa ketika menyelesaikan persoalan matematika yang lebih kompleks.
3. Ketika Hubungan Antarkonsep Membantu
Saya kemudian mencoba menggunakan tabel perkalian untuk membantu siswa mengatasi kesulitan tersebut. Saya meminta mereka membuat tabel perkalian, lalu menggunakannya sebagai alat bantu ketika mengerjakan soal.
Saya mengambil contoh sederhana, yaitu 4 × 2 = 8. Setelah itu, saya meminta siswa memperhatikan hubungan antara perkalian dan pembagian. Jika 4 × 2 = 8, maka 8 ÷ 2 = 4 dan 8 ÷ 4 = 2. Hubungan yang sama juga dapat dilihat dari 2 × 4 = 8.
Melalui contoh tersebut, saya ingin menunjukkan bahwa perkalian dan pembagian memiliki hubungan. Hasil perkalian dapat digunakan untuk membantu menyelesaikan soal pembagian, selama bilangan yang digunakan menghasilkan pembagian dengan hasil bilangan bulat.
Penjelasan singkat tersebut membuat siswa mulai melihat kegunaan tabel perkalian dari sudut pandang yang berbeda. Tabel itu tidak hanya membantu mereka menemukan hasil perkalian, tetapi juga dapat digunakan sebagai alat bantu untuk mengerjakan soal pembagian.
Saya kemudian memberikan beberapa soal perkalian dan pembagian sebagai pemeriksaan sederhana. Kali ini, siswa dapat menggunakan tabel perkalian yang telah mereka buat. Saya melihat bahwa mereka lebih terbantu ketika mengerjakan soal dengan menggunakan tabel tersebut.
Pengalaman ini membuat saya berpikir bahwa sebagian kesulitan siswa mungkin bukan semata-mata karena mereka tidak memahami cara menyelesaikan soal. Mereka juga dapat mengalami kesulitan ketika harus mengingat hasil hitungan yang diperlukan untuk menyelesaikannya.
Tentu saja, penggunaan tabel perkalian belum cukup untuk memastikan bahwa siswa telah memahami hubungan perkalian dan pembagian secara mendalam. Namun, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa bantuan yang tepat dapat membuat siswa lebih mudah mengerjakan soal yang sebelumnya terasa sulit.
Dari sini, saya mulai melihat pentingnya menghubungkan satu pengetahuan dengan pengetahuan lainnya. Pengetahuan yang telah dipelajari sebelumnya dapat menjadi bantuan bagi siswa ketika mereka menghadapi persoalan baru.
4. Apakah Persoalannya Hanya Daya Ingat?
Pengalaman tersebut membuat saya kembali mempertanyakan persoalan yang muncul dalam percakapan antarguru tadi. Apakah kesulitan siswa memang hanya berkaitan dengan kemampuan mengingat, atau ada hal lain dalam proses pembelajaran yang perlu diperhatikan?
Apakah siswa benar-benar kesulitan mengingat, atau mungkin mereka belum sepenuhnya memahami konsep yang dipelajari?
Pertanyaan tersebut membuat saya menyadari bahwa kesalahan siswa tidak selalu dapat dijelaskan dengan satu alasan. Ketika siswa kesulitan mengerjakan soal, saya perlu melihat lebih jauh apakah mereka belum memahami konsep, belum menguasai langkah penyelesaian, atau mengalami kesulitan mengingat hasil hitungan yang diperlukan.
Di sisi lain, saya juga sempat memikirkan perbedaan kebiasaan bermain anak-anak sekarang dengan pengalaman masa kecil saya. Dahulu, permainan yang saya kenal lebih banyak dilakukan secara langsung bersama teman-teman. Sementara itu, anak-anak sekarang memiliki akses yang lebih luas terhadap permainan digital dan penggunaan ponsel.
Perbedaan tersebut membuat saya bertanya-tanya apakah perubahan kebiasaan bermain dan akses terhadap informasi berkaitan dengan cara anak belajar, mengingat, dan menalar. Namun, saya belum memiliki bukti yang cukup untuk menjawab pertanyaan itu.
Pengalaman yang saya temui di kelas juga belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa kebiasaan bermain atau penggunaan ponsel menyebabkan siswa lebih sulit mengingat. Untuk menjawabnya, diperlukan pengamatan dan informasi yang lebih memadai.
Karena itu, saya tidak ingin terburu-buru menarik kesimpulan yang terlalu luas. Setidaknya, pengalaman di kelas mengingatkan saya bahwa kesulitan mengingat hasil hitungan dan kemampuan mengikuti penjelasan perlu diperhatikan secara berbeda.
5. Apa yang Perlu Saya Pikirkan Kembali sebagai Guru?
Pengalaman tersebut membuat saya berpikir bahwa ketika siswa kesulitan menjawab soal, saya perlu memeriksa terlebih dahulu letak kesulitannya. Apakah mereka belum memahami konsep, belum menguasai langkah penyelesaian, atau sebenarnya dapat mengikuti proses pengerjaan tetapi belum lancar mengingat hasil hitungan?
Perbedaan tersebut penting karena setiap kesulitan mungkin membutuhkan pendekatan yang berbeda. Siswa yang belum memahami konsep memerlukan penjelasan yang membantu mereka membangun pemahaman. Sementara itu, siswa yang sudah memahami langkah penyelesaian tetapi belum lancar mengingat hasil hitungan mungkin membutuhkan latihan yang sesuai.
Saya juga perlu memikirkan kembali bagaimana menghubungkan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa dengan materi yang sedang dipelajari. Hubungan antara perkalian dan pembagian, misalnya, dapat digunakan untuk membantu siswa melihat keterkaitan antarkeduanya. Dengan begitu, mereka tidak hanya mengerjakan soal sebagai latihan yang terpisah, tetapi juga belajar menggunakan pengetahuan yang sudah dimiliki.
Dalam praktik pembelajaran, saya mencoba memulai kegiatan dengan mengingatkan siswa pada kemampuan dasar yang diperlukan untuk memahami materi. Saya juga memberikan petunjuk tentang kemampuan yang perlu mereka kuasai agar dapat menyelesaikan persoalan yang akan dipelajari.
Melalui cara tersebut, saya melihat bahwa siswa menjadi lebih siap untuk memperhatikan bagian-bagian penting dalam pembelajaran. Mereka juga mulai berusaha memahami kemampuan dasar yang dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan yang diberikan.
Selain itu, saya menerapkan pengulangan materi agar siswa kembali mengingat pengetahuan dasar yang diperlukan dalam pembelajaran berikutnya. Dalam matematika, misalnya, pemahaman terhadap operasi hitung bilangan menjadi salah satu kemampuan yang terus digunakan ketika siswa mempelajari materi baru.
Dari pengamatan saya, pengulangan secara berkala cukup membantu beberapa siswa yang sebelumnya sering mengalami kesulitan mengingat materi. Saya mulai melihat adanya peningkatan kemampuan mereka dalam mengingat pengetahuan yang telah dipelajari.
Pengalaman ini membuat saya menyadari bahwa ketika siswa mengalami kesulitan, saya tidak cukup hanya meminta mereka menghafal atau mengulang jawaban. Saya juga perlu memikirkan bagaimana membantu mereka memahami materi, menghubungkan pengetahuan, dan berlatih menggunakan pengetahuan tersebut.
6. Pertanyaan yang Masih Tersisa
Pengalaman ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa siswa sekarang lebih mudah menalar daripada mengingat. Pengamatan yang saya lakukan masih terbatas pada situasi pembelajaran di kelas, sehingga diperlukan pengamatan lebih lanjut untuk memahami persoalan tersebut.
Namun, pengalaman itu mengingatkan saya bahwa kesulitan siswa dalam mengingat suatu informasi tidak selalu cukup dijelaskan dengan mengatakan bahwa mereka belum hafal. Saya juga perlu melihat bagaimana mereka memahami informasi tersebut dan menghubungkannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki.
Bagi saya, hal ini menjadi pengingat bahwa proses pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan apa yang mampu diingat siswa, tetapi juga bagaimana mereka memahami dan menggunakan pengetahuan tersebut. Keduanya perlu diperhatikan agar saya dapat mengetahui bantuan seperti apa yang dibutuhkan siswa.
Lalu, benarkah siswa saat ini lebih mudah menalar daripada mengingat? Saya belum dapat menjawabnya dengan pasti. Namun, melalui pengalaman ini, saya belajar bahwa sebelum menyimpulkan siswa mengalami kesulitan mengingat, saya perlu melihat lebih jauh bagaimana mereka memahami materi dan menggunakan pengetahuan yang telah dipelajari.
Mungkin pertanyaan yang lebih penting bagi saya sebagai guru bukan hanya mengapa siswa sulit mengingat, melainkan juga bagaimana saya dapat membantu mereka memahami dan menghubungkan pengetahuan agar lebih mudah digunakan ketika menghadapi persoalan baru.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
Belum dapat disimpulkan demikian. Pengalaman dalam artikel ini menunjukkan adanya siswa yang dapat mengikuti langkah penyelesaian soal, tetapi masih mengalami kesulitan mengingat hasil perkalian dan pembagian sederhana. Pengamatan tersebut belum cukup untuk mewakili kemampuan siswa secara umum.
Kemampuan mengikuti langkah penyelesaian dan mengingat hasil hitungan merupakan hal yang berbeda. Siswa mungkin memahami cara mengerjakan soal, tetapi belum lancar mengingat fakta perkalian yang diperlukan. Karena itu, guru perlu memeriksa letak kesulitan siswa sebelum menentukan bantuan yang sesuai.
Tabel perkalian dapat membantu siswa menemukan hubungan antara perkalian dan pembagian. Misalnya, jika 4 × 2 = 8, maka 8 ÷ 2 = 4 dan 8 ÷ 4 = 2. Dengan menggunakan tabel perkalian, siswa memiliki alat bantu untuk menemukan hasil hitungan ketika belum mampu mengingatnya secara langsung.
Guru dapat memeriksa pemahaman konsep dan kemampuan dasar siswa terlebih dahulu. Selanjutnya, guru dapat menghubungkan materi dengan pengetahuan yang sudah dipelajari, memberikan latihan yang sesuai, serta mengulang materi dasar secara berkala. Pendekatan tersebut perlu disesuaikan dengan kesulitan yang dialami siswa.
Artikel ini belum dapat menjawab pertanyaan tersebut. Pengalaman yang diceritakan merupakan pengamatan dalam pembelajaran di kelas dan belum membuktikan adanya hubungan sebab-akibat antara penggunaan ponsel dan kemampuan mengingat siswa. Diperlukan bukti dan pengamatan lebih lanjut untuk menjawabnya.
