Mengapa Siswa Malas Membaca? Pengalaman Guru di Kelas dan Cara Mengatasinya

Mengapa siswa malas membaca? Simak pengalaman guru di kelas serta beberapa cara sederhana untuk mengatasi rendahnya minat membaca siswa.
Ilustrasi siswa sekolah dasar sedang membaca buku
Mengapa siswa malas membaca?

Kita belajar dari sebuah masalah

Saat pembelajaran berlangsung, saya mencoba meminta siswa untuk membaca materi terlebih dahulu sebelum penjelasan dimulai. Awalnya saya mengira hal ini akan membantu mereka memahami pelajaran dengan lebih mudah. Namun yang terjadi justru di luar dugaan.

Materi yang diberikan sebenarnya tidak terlalu banyak, hanya sekitar dua lembar halaman buku atau empat muka saja. Kebetulan saat itu materi yang sedang dipelajari adalah Pendidikan Pancasila, sehingga secara alami isi bacaannya memang sedikit lebih panjang dibandingkan pelajaran lain.

Namun dari sinilah permasalahan mulai muncul. Ketika saya meminta mereka membaca dua lembar halaman buku terlebih dahulu, beberapa murid langsung melakukan protes. Bagi mereka, membaca dua lembar halaman saja sudah terasa terlalu banyak dan melelahkan.

Saat itu saya sempat berpikir bahwa mungkin mereka masih berada pada masa transisi dari kelas rendah menuju kelas tinggi, yang tentu saja memiliki perubahan pola pembelajaran. Akan tetapi di sisi lain saya juga merasa bahwa jika kondisi ini dibiarkan, maka hal tersebut dapat berdampak kurang baik terhadap kebiasaan belajar siswa di kemudian hari.

Sebuah refleksi dari permasalahan

Jujur, saya sempat membatin, 'Padahal cuma dua lembar, lho, bukan satu novel.' Tapi dari situ saya tersadar, standar 'berat' bagi anak-anak memang beda jauh dengan kita yang sudah dewasa. Saya pun mulai putar otak, apa yang salah?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian mendorong saya untuk mencoba melakukan pengamatan sederhana terhadap kebiasaan belajar anak didik saya. Dari pengamatan tersebut, saya mulai menemukan beberapa hal yang mungkin menjadi faktor penyebab mengapa anak sekolah dasar terlihat kurang tertarik membaca buku.

Beberapa faktor tersebut antara lain sebagai berikut.

  1. Penyakit Bingung Saat Lihat Banyak Bacaan

    Sebagian anak sekolah dasar menganggap membaca buku sebagai kegiatan yang melelahkan karena mereka membayangkan harus membaca setiap kata secara perlahan. Ketika melihat halaman yang penuh tulisan, mereka merasa tugas membaca itu terlalu berat. Padahal dengan teknik membaca yang tepat, membaca sebenarnya dapat menjadi kegiatan yang lebih ringan dan menyenangkan.

  2. Kurang Penguasaan Kosakata

    Masih berkaitan dengan poin pertama, kebanyakan siswa yang malas membaca biasanya memiliki keterbatasan dalam penguasaan kosakata. Kekurangan kosakata ini sering berkaitan dengan pengalaman membaca yang masih sedikit. Akibatnya mereka merasa kesulitan dalam menafsirkan isi sebuah bacaan.

  3. Siswa Lebih Suka Banyak Tampilan Visual

    Salah satu alasan siswa malas membaca adalah karena manusia pada dasarnya merupakan makhluk visual. Mata manusia lebih peka terhadap gambar yang menarik dibandingkan tulisan yang sangat banyak. Hal ini juga terlihat jelas pada anak-anak. Mereka biasanya lebih tertarik melihat buku yang penuh gambar atau infografis dibandingkan buku yang hanya berisi tulisan panjang. Akibatnya, ketika dihadapkan pada bacaan yang penuh teks tanpa ilustrasi, minat membaca mereka sering kali langsung menurun.

  4. Penyakit klasik "ngantuk" saat baca

    Gejala lain yang sering muncul pada anak sekolah dasar adalah rasa kantuk saat membaca buku. Baru beberapa halaman membaca, mereka sudah terlihat bosan dan mengantuk. Hal ini biasanya terjadi karena mereka belum terbiasa membaca dalam waktu yang cukup lama atau karena bacaan yang diberikan tidak cukup menarik perhatian mereka.

  5. Jenis Bacaan yang Kurang Menarik

    Anak-anak pada dasarnya menyukai sesuatu yang menyenangkan dan menghibur. Ketika sebuah bacaan terasa terlalu serius atau penuh penjelasan panjang seperti buku pelajaran, mereka cenderung kehilangan minat untuk membaca. Akibatnya banyak anak sekolah dasar menganggap membaca sebagai kegiatan yang membosankan karena mereka tidak menemukan unsur hiburan di dalamnya.

  6. Kurangnya Waktu Membaca dan Kondisi Lingkungan yang Kurang Tenang

    Walaupun masih berada pada usia sekolah dasar, tidak sedikit anak yang memiliki aktivitas yang cukup padat. Setelah pulang sekolah mereka bermain, mengikuti kegiatan tambahan, atau sibuk dengan berbagai hiburan lain. Selain itu, lingkungan yang kurang tenang juga membuat anak sulit fokus saat membaca. Tanpa waktu yang cukup dan suasana yang mendukung, kegiatan membaca menjadi kurang menarik bagi mereka.

Cara Mengatasi Anak Sekolah Dasar yang Malas Membaca

Setelah mencoba memahami berbagai kemungkinan penyebab anak malas membaca, saya mulai menyadari bahwa guru tidak bisa hanya menyalahkan siswa. Guru juga perlu mencari cara agar kegiatan membaca terasa lebih dekat dengan dunia anak.

Berdasarkan pemikiran tersebut, ada beberapa cara sederhana yang dapat dilakukan agar kegiatan membaca menjadi lebih ringan dan menarik bagi siswa sekolah dasar.

  1. Membiasakan Siswa Mencari Makna Kata

    Membiasakan siswa untuk mencari makna kata sulit, kemudian mencatatnya dalam daftar yang dapat dijadikan seperti kamus mini, ternyata lumayan membantu buat nambah 'tabungan' kata mereka. Memahami arti kata-kata sulit dalam sebuah tulisan, proses pemahaman bacaan akan menjadi lebih mudah. Hal ini pada akhirnya dapat membuat siswa lebih bersemangat dalam membaca.

  2. Melatih Kebiasaan Membaca Sedikit demi Sedikit

    Membaca merupakan keterampilan bahasa yang memerlukan latihan. Semakin sering anak berlatih membaca, semakin mudah pula mereka memahami isi bacaan. Oleh karena itu, guru dapat memulai pembiasaan tersebut dari hal-hal kecil. Tidak langsung menugaskan siswa membaca banyak halaman, tetapi memberikan tugas membaca sedikit demi sedikit agar mereka terbiasa membaca berbagai tulisan.

  3. Mengajarkan bahwa Membaca Bertujuan untuk Memahami

    Banyak anak menganggap membaca sebagai kegiatan yang berat karena merasa harus menghafal isi buku. Padahal tujuan membaca sebenarnya adalah memahami informasi yang terdapat di dalam bacaan tersebut. Jika anak memahami hal ini, mereka akan merasa membaca menjadi lebih ringan. Oleh karena itu, tanamkan kepada siswa bahwa membaca bertujuan untuk memahami isi bacaan, bukan sekadar menyelesaikan bacaan.

  4. Mengajak Siswa Memahami Bacaan Melalui Soal

    Soal-soal yang hadir setelah bacaan dalam buku pelajaran sebenarnya bertujuan membantu siswa memahami inti bacaan. Selain itu, keberadaan soal juga mendorong siswa untuk membaca bacaan yang tersedia. Dengan demikian secara tidak langsung kegiatan ini dapat melatih siswa untuk terbiasa membaca dan menggali informasi dari sebuah bacaan.

  5. Menggunakan Metode Membaca yang Menyenangkan

    Setiap anak memiliki cara belajar yang berbeda. Ada yang senang membaca secara mandiri, ada pula yang lebih tertarik membaca sambil berdiskusi atau menjawab pertanyaan. Guru dapat mencoba berbagai metode seperti membaca bersama, membaca bergiliran, atau meminta siswa mencari inti cerita dari bacaan.

  6. Membangun Anggapan bahwa Membaca adalah Kegiatan yang Menyenangkan

    Anak perlu menyadari bahwa membaca tidak selalu membosankan. Guru dapat memberikan motivasi kepada siswa untuk membangun pemikiran bahwa kegiatan membaca merupakan kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat, bukan kegiatan yang menyebalkan.

Koreksi dari Sisi Guru

Selain itu, saya juga mulai mempertanyakan metode pembelajaran yang saya praktikkan di kelas. Apakah cara yang saya gunakan sudah benar-benar sesuai dengan kondisi siswa atau belum? Dengan kata lain, apakah pembelajaran yang saya lakukan di kelas sudah mampu mengakomodasi kebutuhan murid dalam memahami materi melalui kegiatan literasi.

Contoh Penerapan di Kelas

Penerapan di dalam kelas yang hampir dilakukan oleh sebagian besar guru di sekolah dasar adalah menggunakan teknik pertanyaan setelah bacaan. Teknik ini sebenarnya sudah menjadi semacam "standar" yang terdapat pada Lembar Kerja Siswa maupun buku pelajaran.

Hasilnya? Ternyata cukup ampuh buat 'memaksa' mereka berteman dengan teks tanpa mereka sadari. Mereka yang tadinya protes disuruh baca, sekarang malah sibuk bolak-balik halaman demi nyari jawaban soal. Lucu juga liat ekspresi serius mereka.

Manfaat Kegiatan

Membaca pada dasarnya merupakan kegiatan yang wajib dikuasai siswa. Kemampuan membaca menjadi kunci untuk meningkatkan literasi, yang pada akhirnya membantu siswa menghadapi berbagai persoalan pembelajaran di sekolah.

Melalui kegiatan ini siswa diharapkan mampu:

  1. Memahami persoalan yang disajikan dalam bacaan.
  2. Membiasakan diri membaca banyak kata tanpa cepat merasa jenuh.
  3. Memahami soal yang berhubungan dengan cerita atau teks bacaan.
  4. Menangkap inti dari sebuah bacaan.

Penutup

Pengalaman ini membuat saya menyadari bahwa kemampuan membaca tidak bisa muncul secara tiba-tiba. Anak-anak membutuhkan bimbingan, latihan, dan pendekatan yang tepat agar mereka terbiasa memahami bacaan dengan lebih baik. Hal ini bukan semata-mata tentang membaca buku bacaan saja, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan mereka dalam membaca materi pelajaran.

Pada akhirnya, kita nggak bisa cuma kasih buku dan bilang 'baca ya'. Kita perlu jadi pemandu yang tanpa lelah membimbing buat mereka sampai mereka sadar kalau membaca itu asik, bukan beban.

Semoga bermanfaat.

Pertanyaan yang sering muncul

Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan kosakata dan kebiasaan membaca yang masih rendah. Selain itu, banyak siswa lebih tertarik pada tampilan visual seperti gambar dibandingkan bacaan yang penuh teks.

Tidak selalu. Bagi sebagian siswa, membaca terlalu banyak halaman sekaligus justru membuat mereka cepat lelah dan kehilangan minat. Oleh karena itu, guru dapat melatih kebiasaan membaca secara bertahap dengan jumlah bacaan yang sedikit terlebih dahulu.

Guru dapat menggunakan metode membaca yang menyenangkan seperti membaca bersama, membaca bergiliran, atau meminta siswa menemukan inti bacaan. Selain itu, penggunaan cerita menarik dan diskusi ringan juga dapat meningkatkan minat membaca siswa.

Membiasakan membaca sejak dini membantu meningkatkan kemampuan literasi siswa. Dengan kemampuan membaca yang baik, siswa akan lebih mudah memahami pelajaran, mengerjakan soal cerita, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

Referensi

Referensi Bacaan
  1. https://www.hipwee.com/motivasi/buatmu-yang-malas-membaca-trik-efektif-ini-menyulapmu-lebih-betah-baca-berlama-lama/
  2. https://www.kompasiana.com/hanvitra/mengapa-orang-indonesia-malas-membaca_55530be3b67e61340b130973
Pa Candra
Seorang Guru SD yang bertugas di wilayah Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah.

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan santun dan bijak.