Menggunakan AI dengan Benar: Mengapa Guru Perlu Belajar Membuat Prompt?

Artikel ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya tentang AI untuk Pelajaran Bahasa Indonesia. Kami menyarankan untuk membaca artikel pertama tersebut agar pembaca mendapatkan gambaran yang lebih utuh tentang pembahasan ini.

AI membantu pembelajaran Bahasa Indonesia
AI membantu pembelajaran Bahasa Indonesia

Kondisi yang Sering Terjadi

Saat mengajar, terkadang kita membutuhkan sebuah soal secara instan untuk diberikan kepada siswa. Jika berada dalam kondisi seperti ini, apakah yang akan Anda lakukan?

Umumnya kita akan mencari referensi pada buku, lembar kerja siswa, ataupun melakukan pencarian melalui mesin pencarian. Kalau saya pribadi, lebih sering mencari ke internet dengan mengandalkan mesin pencarian.

Kondisi tersebut sedikit berubah setelah AI hadir. Kita serasa dibantu oleh seorang asisten. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu untuk mencari dan menyusun dapat dilakukan dengan lebih singkat.

Namun, kemudahan tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan lain: bagaimana cara menggunakan AI agar hasilnya sesuai dengan yang kita inginkan?

Cara Menggunakan AI dengan Benar

AI dapat mempermudah pekerjaan kita jika kita mengetahui cara memanfaatkannya.

Sebelum membahas penggunaan AI lebih jauh, ada baiknya kita mencoba memberikan perintah sederhana kepada AI.

Percobaan
Buatlah sebuah paragraf deskripsi tentang benda di sekitar kita!

Kalau boleh saya menebak, beberapa pembaca mungkin akan memberikan instruksi kepada AI seperti ini: "Buatkan saya sebuah paragraf deskripsi tentang..." atau mungkin jika ingin memberikan konteks tambahan: "Bro, buatkan aku sebuah paragraf deskripsi tentang ... untuk anak sekolah dasar."

Perintah tersebut sebenarnya sudah dapat digunakan. Namun, AI masih memiliki banyak ruang untuk menentukan sendiri seperti apa hasil yang akan dibuat. AI belum mengetahui secara jelas siapa pembacanya, apa tujuan teks tersebut, seberapa panjang teks yang dibutuhkan, atau karakteristik bahasa seperti apa yang kita harapkan.

Di sinilah kita mulai memahami bahwa menggunakan AI bukan hanya persoalan memberikan perintah. Informasi yang kita berikan kepada AI akan memengaruhi arah hasil yang dihasilkan.

Prompt adalah instruksi yang diberikan kepada AI untuk melakukan suatu pekerjaan.

Prompt yang berbeda dapat menghasilkan keluaran yang berbeda pula. Karena itu, kemampuan menyusun prompt menjadi salah satu keterampilan penting ketika kita ingin menggunakan AI secara lebih terarah.

Beri Perintah Jelas
Berikan instruksi yang jelas, relevan, dan sesuai dengan hasil yang ingin dicapai.

Bagaimana AI Memberikan Petunjuk Pemakaian pada Dirinya Sendiri

Saya sendiri pernah bertanya kepada ChatGPT, "Bagaimana cara menggunakan AI yang baik dan benar?" GPT memberikan jawaban yang cukup panjang dengan isi pokok sebagai berikut.

Cara menggunakan AI dengan benar lebih tepat dipahami sebagai cara menempatkan AI dalam proses berpikir manusia.

Prinsip sederhananya:

Manusia → menentukan tujuan
AI → membantu proses
Manusia → memeriksa dan memutuskan

Jadi, AI sebaiknya bukan pengganti otak, tetapi alat bantu untuk berpikir dan bekerja.

Itulah jawaban dari GPT yang saya sadur secara langsung. Dari percakapan tersebut, GPT juga memberikan lima kebiasaan penting yang dapat membantu kita menggunakan AI dengan lebih baik.

Lima kebiasaan penting tersebut meliputi:

  1. Tentukan dulu apa yang ingin dicapai.
    Jangan membuka AI tanpa tujuan yang jelas.

  2. Berikan konteks.
    AI akan jauh lebih berguna jika mengetahui siapa pembacanya, tujuan pekerjaan, batasan, dan bahan yang sudah kita miliki.

  3. Jadikan AI sebagai partner, bukan otoritas.
    Jawaban AI tetap perlu diperiksa. AI bisa salah, mengarang informasi, atau salah memahami konteks.

  4. Jangan langsung menerima hasil pertama.
    Verifikasi jawaban dengan bertanya kembali: "Apa kelemahan jawabanmu?", "Apa asumsi yang kamu gunakan?", atau "Bagian mana yang perlu saya verifikasi?"

  5. Keputusan akhir tetap manusia.
    AI dapat membantu proses pengambilan keputusan, tetapi manusia tetap menjadi pihak yang bertanggung jawab atas keputusan tersebut.

Lima kebiasaan tersebut pada dasarnya mengajarkan satu hal: kita perlu memberikan arah yang jelas kepada AI, sekaligus tetap menempatkan diri sebagai pihak yang mengendalikan dan memeriksa hasilnya.

Salah satu kerangka yang dapat membantu kita menyusun instruksi kepada AI secara lebih terarah adalah RACE Framework.

Metode RACE Framework

Bagaimana pendapat Anda saat membandingkan kedua prompt berikut?

Prompt 1
"Buatkan cerita untuk kelas 3."

Prompt 2
"Saya guru kelas 3 SD. Buatkan cerita pendek bertema menjaga kebersihan lingkungan sekolah, sekitar 300 kata, menggunakan kosakata yang mudah dipahami siswa kelas 3. Setelah cerita, buatkan 5 pertanyaan pemahaman."

Menurut Anda, perintah mana yang akan memberikan hasil yang lebih sesuai dengan kebutuhan? Prompt kedua memberikan informasi yang jauh lebih lengkap. AI mendapatkan gambaran mengenai pengguna, tugas yang harus dilakukan, tema, panjang tulisan, karakter bahasa, serta hasil tambahan yang diharapkan.

Pengguna yang menulis prompt kedua sebenarnya sudah mulai menerapkan cara berpikir yang digunakan dalam RACE. Bukan berarti prompt pertama selalu buruk, tetapi prompt kedua memberikan lebih banyak petunjuk sehingga AI memiliki lebih sedikit hal yang harus ditebak.

Secara umum, RACE digunakan sebagai:

  • R — Role → siapa atau peran AI yang diinginkan
  • A — Action → apa yang harus AI lakukan
  • C — Context → latar belakang atau informasi yang perlu diketahui AI
  • E — Expectation → seperti apa hasil yang diharapkan

Mari kita lihat perbedaannya melalui contoh sederhana.

Tanpa RACE Dengan RACE
Instruksi cenderung spontan Instruksi lebih terstruktur
Konteks sering sedikit Konteks lebih jelas
AI memiliki lebih banyak hal untuk ditebak AI mendapatkan lebih banyak petunjuk
Hasil bisa lebih generik Hasil cenderung lebih sesuai dengan kebutuhan
Cocok untuk tugas sederhana Berguna ketika kebutuhan lebih spesifik
Tidak harus buruk Tidak otomatis lebih baik dalam semua keadaan

Dari contoh tersebut kita dapat melihat bahwa kemampuan menggunakan AI bukan hanya tentang seberapa banyak perintah yang kita ketahui. Yang lebih penting adalah kemampuan menerjemahkan kebutuhan kita menjadi instruksi yang dapat dipahami oleh AI.

Hal ini juga membawa kita pada perubahan cara pandang terhadap peran guru. Guru tetap memiliki pengetahuan dan pengalaman yang tidak dimiliki AI, terutama mengenai kondisi nyata siswanya. Namun, di sisi lain, guru juga dapat memanfaatkan AI untuk membantu menghasilkan berbagai kemungkinan materi dan ide pembelajaran.

Dengan demikian, kemampuan guru dalam menggunakan AI bukan berarti menjadikan guru harus mampu melakukan semuanya dengan AI. Justru guru perlu mengetahui bagian mana yang dapat dibantu AI dan bagian mana yang tetap membutuhkan pertimbangan manusia.

Kelebihan dan Kekurangan

Terlepas dari apa pun, AI sebagai hasil karya manusia tentu memiliki kelebihan dan kelemahan. Setelah Anda membaca artikel Belajar AI untuk Pelajaran Bahasa Indonesia di SD sampai pada pembahasan penggunaan AI dalam pembelajaran, izinkan saya menyampaikan beberapa kelebihan serta kekurangan AI berdasarkan pengamatan saya.

Kelebihan AI

  • Cepat menghasilkan ide
  • Membantu membuat variasi materi
  • Menghemat waktu
  • Bisa membantu diferensiasi pembelajaran
  • Membantu guru yang kehabisan ide

Kekurangan dan Risiko AI

  • Hasil tidak selalu benar
  • Bisa tidak sesuai dengan karakter siswa
  • Bahasa yang dihasilkan bisa terlalu sulit
  • AI tidak memahami kondisi kelas secara nyata
  • Dapat menimbulkan ketergantungan jika digunakan tanpa kontrol
  • Ada risiko terkait privasi dan keamanan data siswa
AI bukan pengganti guru. AI adalah alat bantu guru.

Hal yang perlu kita pahami adalah bahwa kemampuan AI menghasilkan jawaban dengan cepat tidak berarti setiap jawaban tersebut benar atau sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. AI bisa menghasilkan informasi yang salah, bahasa yang tidak sesuai usia anak, soal yang tidak tepat, bahkan materi yang terlihat bagus tetapi secara pedagogis kurang cocok.

Karena itu, penggunaan AI dalam pembelajaran tetap membutuhkan peran guru. Guru yang mengetahui kondisi siswanya dapat menilai apakah sebuah materi memang sesuai untuk digunakan atau masih perlu diperbaiki.

Cepat bukan berarti benar.
Banyak bukan berarti sesuai.

Penutup

AI tidak akan menggantikan guru. Guru yang menggunakan AI dengan baik akan memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan hal yang tidak bisa dilakukan AI, yaitu memahami siswanya.

PPTX
Materi Pengimbasan BigbookSize = 1.7 MB • Editable • File Type: .pptx

FAQ

Tidak. AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu guru, bukan sebagai pengganti guru. AI dapat membantu menghasilkan ide dan materi, tetapi guru tetap diperlukan untuk memahami kondisi siswa, memeriksa hasil, dan menentukan apakah materi tersebut sesuai untuk digunakan dalam pembelajaran.

Karena instruksi yang diberikan akan memengaruhi arah hasil yang dihasilkan AI. Semakin jelas tujuan, konteks, batasan, dan hasil yang diharapkan, semakin banyak petunjuk yang dimiliki AI untuk menghasilkan jawaban yang sesuai dengan kebutuhan.

RACE Framework merupakan salah satu kerangka yang dapat membantu menyusun instruksi kepada AI secara lebih terarah. RACE terdiri dari Role, Action, Context, dan Expectation, yaitu peran, tindakan yang harus dilakukan, konteks yang perlu diketahui, serta hasil yang diharapkan.

Tidak selalu. Yang lebih penting bukan sekadar panjangnya prompt, tetapi apakah instruksi tersebut memberikan informasi yang relevan dengan kebutuhan. Prompt yang jelas dan memiliki konteks yang tepat dapat membantu AI menghasilkan jawaban yang lebih sesuai.

Guru tetap perlu memeriksa dan menilai hasil AI sebelum menggunakannya. AI dapat menghasilkan informasi yang salah, bahasa yang tidak sesuai usia siswa, soal yang kurang tepat, atau materi yang secara pedagogis belum sesuai dengan kondisi kelas.

Komentar

Tinggalkan Komentar

Komentarlah dengan sopan
← Sebelumnya