Bukan Cuma Mengajar: Realita Kerepotan Guru di Awal Tahun Ajaran Baru

Kegiatan guru di awal tahun ajaran
Kegiatan guru di awal tahun ajaran

Tahun ajaran baru bagi siswa tidak sama dengan tahun baru bagi guru. Seragam baru, buku baru, ruangan baru, dan berbagai perlengkapan yang mungkin juga baru bagi siswa adalah hal yang menyenangkan. Namun, bagi guru, berbagai hal baru tersebut berarti ada bermacam-macam administrasi yang harus segera diselesaikan.

Tugas guru yang tampak dari luar mungkin hanya terlihat ketika sedang mengajar di kelas bersama para siswa. Padahal, di balik kegiatan tersebut terdapat rangkaian pekerjaan yang tercatat, terencana, dan tersusun secara sistematis sebagai bagian dari administrasi kelas dan persiapan pembelajaran. Tahun ajaran baru menjadi awal dari rangkaian pekerjaan tersebut.

Pernahkah Anda merasakan bahwa bulan-bulan pertama tahun pembelajaran adalah bulan yang berat?
Jika belum, simak cerita saya.

Juli, Bulan Ketika Semuanya Dimulai

Kalender pendidikan menunjukkan akhir bulan Juni. Itu artinya, sebentar lagi bulan Juli akan tiba dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) mulai dilaksanakan. Ini bukan sekadar masa perkenalan biasa. Bagi guru, kegiatan tersebut menjadi tanda bahwa pekerjaan kembali dimulai dengan peserta didik yang berbeda.

Rutinitas ini menyangkut berbagai hal penting yang tidak selalu terlihat, misalnya penyusunan administrasi kelas, penyusunan perangkat ajar, serta berbagai persiapan lain, termasuk berbagi informasi tentang calon peserta didik baru. Semua dipersiapkan agar pembelajaran tahun ini dapat berjalan lebih baik daripada tahun sebelumnya.

Awal tahun yang sebenarnya tidak benar-benar “awal”. Ungkapan ini cukup menggambarkan kesibukan seorang guru di bulan Juli.

Mengenal Siswa Lebih dari Sekadar Nama

Sungguh menjadi ironi jika pertemuan pertama dengan siswa hanya berisi perkenalan sebatas nama, alamat, serta cita-cita. Hal-hal tersebut memang penting, tetapi belum cukup membantu guru memahami siswa yang akan dihadapinya selama satu tahun ke depan.

Berkenalan dengan siswa baru bagi guru merupakan tahap awal untuk memahami karakter, kebiasaan, serta kemampuan dasar siswa yang akan diajarnya selama satu tahun ajaran ke depan.

Sepengalaman saya, pemahaman terhadap karakter siswa akan membantu guru dalam memilih metode pembelajaran. Mengenal kebiasaan setiap siswa juga dapat memudahkan guru dalam menentukan model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi kelas.

Kemampuan dasar siswa diperlukan guru untuk mengetahui tingkat pemahaman mereka terhadap materi yang akan dipelajari. Informasi tersebut dapat menjadi feedback yang berguna bagi guru dalam menyusun pembelajaran berikutnya.

Perkenalan awal bagi guru bukan sekadar mengetahui nama siswa. Sejatinya, guru sedang “membaca” kelas yang akan diajarnya sepanjang tahun ajaran ini.

Sebelum Mengajar, Guru Harus Menyiapkan Banyak Hal

“Masuk ke kelas tanpa persiapan adalah sebuah kesalahan fatal.” Kalimat tersebut pernah saya temukan dalam sebuah buku terkait pembelajaran di kelas. Guru yang masuk ke kelas tanpa persiapan matang akan kesulitan mengarahkan siswa menuju tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

Pembelajaran yang dilakukan guru merupakan salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut. Karena itu, prosesnya tetap membutuhkan rancangan yang matang. Setidaknya, guru perlu memiliki gambaran tentang pembelajaran yang akan dilaksanakan di dalam kelas.

Anda tidak akan melihat pekerjaan ini ketika guru berada di depan kelas, apalagi ketika bersama siswa. Sebab, sebagian pekerjaan tersebut memang berlangsung di balik layar seorang guru.

Agustus Datang Membawa Kesibukan Baru

Terkadang persiapan administrasi kelas belum selesai ketika bulan Juli hampir berakhir. Belum selesai satu pekerjaan, bulan Agustus sudah datang membawa kegiatan yang lain.

Agustus adalah bulan kemerdekaan Negara Indonesia. Berbagai perayaan untuk memeriahkan kemerdekaan bangsa dilakukan mulai dari lingkungan kantor hingga masyarakat. Guru pun tidak luput dari berbagai kegiatan tersebut, baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal.

Bagi guru, pada bulan ini kegiatan dapat bertambah karena sering ditunjuk untuk menjadi pengisi berbagai acara. Alasannya cukup sederhana. Guru merupakan salah satu profesi yang sehari-hari mengandalkan kemampuan public speaking, sehingga kemampuan tersebut sering dibutuhkan dalam berbagai kegiatan.

Administrasi belum selesai, nama dan kebiasaan siswa belum sepenuhnya dihafal. Kemudian ada realitas lain yang perlu diterima: Agustus juga merupakan bulan lahirnya Gerakan Pramuka Indonesia.

Selayaknya perayaan kemerdekaan, berbagai kegiatan kepramukaan banyak dilaksanakan pada bulan Agustus. Kegiatan Pramuka bukan sekadar kegiatan tambahan, tetapi juga menjadi salah satu sarana untuk mengembangkan karakter siswa.

Ada Pekerjaan Guru yang Bersifat Insidental

Pernahkah terbayangkan ketika seorang siswa berkelahi atau tiba-tiba sakit saat pembelajaran sedang berlangsung? Bagi guru, kejadian seperti itu merupakan hal yang wajar terjadi. Namun, tetap saja kondisi tersebut dapat mengganggu proses pembelajaran yang sedang berlangsung.

Selain siswa yang berkelahi dengan teman sekelasnya, siswa yang tiba-tiba menangis karena dijahili teman juga merupakan hal yang umum terjadi, terutama pada awal-awal tahun ajaran.

Tidak semua pekerjaan guru datang sesuai jadwal. Ketika pekerjaan seperti itu muncul, rencana yang sudah disusun harus menyesuaikan dengan kenyataan.

Coba kita bayangkan bersama, jika kegiatan tak terduga muncul setiap hari, bagaimana cara guru bisa meresponsnya?

Guru perlu mampu menghadapi berbagai kondisi yang muncul di luar rencana. Rencana pembelajaran memang penting, tetapi kondisi di dalam kelas tidak selalu berjalan persis seperti yang telah direncanakan.

Kondisi-kondisi tersebut memang akan membuat guru menjadi sibuk. Namun, kesibukan seorang guru tetap perlu diimbangi dengan manfaat yang nyata bagi peserta didiknya.

Sibuk Belum Tentu Sama dengan Produktif

Kegiatan yang banyak dan bermacam-macam tersebut merupakan bagian dari rutinitas yang hampir selalu ditemui guru pada awal tahun ajaran baru. Kita tidak perlu menghakimi ataupun mengeluhkan kegiatan-kegiatan tersebut karena pada dasarnya semua itu merupakan bagian dari kewajiban seorang guru.

Namun, dari banyaknya kegiatan tersebut muncul sebuah pertanyaan yang penting untuk diperhatikan bersama sebagai bahan refleksi.

Apakah kegiatan tersebut benar-benar membantu siswa?

Berhadapan dengan banyak kegiatan tentu membuat tenaga dan pikiran guru terkuras. Jika kegiatan tersebut dapat meningkatkan kemampuan siswa atau memberikan manfaat bagi pembelajaran, guru tentu akan dengan senang hati melaksanakannya.

Namun, jika sebuah kegiatan hanya menambah pekerjaan guru tanpa memberikan manfaat yang berarti bagi siswa, tentu ada hal lain yang perlu dipertimbangkan. Sebab, di tengah banyaknya pekerjaan tersebut tetap ada siswa di dalam kelas yang membutuhkan perhatian langsung dari gurunya.

Ternyata Mengajar Hanya Salah Satu Bagian

Banyak orang berpikir bahwa menjadi guru itu mudah. Datang pagi, mengajar siswa, kemudian setelah selesai mengajar tinggal menunggu waktu pulang. Gambaran seperti ini mungkin muncul karena pekerjaan guru yang paling mudah dilihat memang ketika berada di depan kelas.

Namun, setelah menjalani rutinitas tersebut, saya makin tersadar bahwa mengajar di kelas hanyalah salah satu bagian dari pekerjaan seorang guru. Ada persiapan yang dilakukan sebelum pembelajaran, ada evaluasi setelahnya, ada diskusi dengan teman sejawat tentang perkembangan siswa, dan ada berbagai kegiatan lain yang tidak selalu terlihat oleh siswa maupun orang tua.

Pekerjaan-pekerjaan tersebut mungkin tidak selalu terlihat sebagai kegiatan mengajar. Namun, semuanya tetap memiliki hubungan dengan bagaimana pembelajaran di kelas dapat berjalan dengan baik.

Dan menariknya, semua itu akan kembali saya temui ketika tahun ajaran berikutnya dimulai.

Refleksi Personal

Bagi guru, kegiatan yang berulang setiap tahun seharusnya bukan sekadar mengulang pekerjaan yang sama. Pengalaman dari tahun sebelumnya menjadi bekal untuk memperbaiki apa yang masih kurang. Kesalahan dalam pembelajaran, cara menghadapi siswa, maupun persiapan yang belum maksimal semestinya menjadi bahan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik pada tahun berikutnya.

Tahun ajaran memang selalu dimulai kembali. Siswa baru datang, administrasi kembali disiapkan, pembelajaran kembali dirancang, dan berbagai kegiatan kembali menunggu untuk dilaksanakan. Namun, guru tidak benar-benar kembali ke titik awal. Ada pengalaman yang dibawa dari tahun sebelumnya, ada kekurangan yang sudah diketahui, dan ada pelajaran yang seharusnya membuat langkah berikutnya menjadi lebih baik.

Mungkin itulah makna dari pekerjaan guru yang terus berulang. Bukan sekadar menyelesaikan kegiatan yang sama dari tahun ke tahun, tetapi menggunakan setiap pengalaman untuk memperbaiki apa yang belum baik.

Awal tahun mungkin selalu dimulai kembali, tetapi semestinya guru tidak pernah benar-benar kembali ke titik yang sama.
Ini bukan sebuah pembelaan terkait kekosongan artikel yang saya bagikan selama dua bulan ini. Kesibukan dengan berbagai kegiatan menjadi salah satu alasannya. Sementara itu, saya juga masih berusaha mengatur blog agar artikel-artikel yang saya bagikan dapat kembali masuk ke halaman pencarian.

Komentar

Tinggalkan Komentar

Komentarlah dengan sopan
← Sebelumnya